Pentingnya pelaksanaan home visit oleh guru bimbingan dan konseling

Abstract

Lingkungan rumah sebagai tempat pendidikan pertama bagi siswa hendaklah dapat memberikan peranan yang baik untuk perkembangannya. Pada Kenyataanya, disadari masih banyak keluarga atau lingkungan rumah yang bermasalah sehingga menimbulkan permasalahan bagi siswa terutama dalam proses belajar di sekolah. Permasalahan siswa dapat dilihat dari mana masalah itu datang, baik itu dari hubungan dalam keluarga dan situasi keluarga. Masalah keluarga dan situasi keluarga dapat mempengaruhi siswa di sekolah dalam hal konsentrasi belajar dan aktivitas sekolah, sehingga mengakibatkan turunnya prestasi belajar siswa. Oleh karena itu guru bimbingan dan konseling perlu melakukan kegiatan home visit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui, memahami, serta pada nantinya bias mengaplikasikan bagaimana pelaksanaan home visit oleh guru bimbingan dan konseling secara baik dan benar sesuai dengan langkah-langkah home visit, yang terdiri dari perencanaan home visit, pelaksanaan home visit, evaluasi home visit, tindak lanjut home visit, Analisis home visit, dan laporan home visit. Untuk itu kita perlu membahas secara mendalam tentang pentingnya kegiatan home visit yang dilakukan oleh guru bimbingan dan konseling, serta bagaimana langkah-langkahnya. Jika kegiatan home visit bisa dilakukan dengan efektif maka permasalahan siswa di sekolah dapat terentaskan dan siswa mempunyai hasil belajar yang maksimal.

Keywords

Home Visit, Guru BK

References

Abu Ahmadi. (2009). Psikologi Umum. Jakarta: Rineka Cipta.

Badan Standar Nasional Pendidikan. (2006). Panduan Pengembangan Diri. Padang: UNP.

Barr A. John (1954). The Elemtaryteacher dan Guidance. Newyork: Holt rihenrt and winston.

Dedi Supryiadi. (2004). Bimbingan Dan Konseling. Fak Psikologi: UM Surakarta.

Dewa Ketut Sukardi. (2000). Pengantar Pelaksana Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.

Djumhur dan Surya. (1975). Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah. Bandung: Ilmu.

http//www. Ikatan Konselor Indonesia. (2010). Home visit.org.

http//www. Permendikbud No. 111 Tahun 2014. Org.

Prayitno dan Erman Amti. (2015). Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta.

Prayitno. (1987). Orientasi Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Prayitno. (1997). LayananB imbingan dan Konseling di Sekolah Menengah Umum. Jakarta: Ikrar Mandiri Abadi.

Prayitno. (1999). Panduan Kegiatan Pengawasan BK di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.

Prayitno. (2001). Panduan Pengawasan Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.

Prayitno. (2006). Bimbingan dan Konseling. Padang: BK UNP.

Ridwan. (2004). Belajar Mudah Peneliti Untuk Guru, Karyawan, dan Peneliti Pemula. Bandung: Alfa beta.

Rochman Natawidjaja. (2001). Pengantar Bimbingan dan Penyuluhan. Jakarta: Depdikbud.

Slameto. (2003). Bimbingan di Sekolah. Jakarta: Bina Aksara.

Thantawy. (1995). Manajemen Bimbingan dan Konseling. PT. Pamator Presisindo: Jakarta.

Thohirin. Bimbingan dan Konseling Di Sekolah dan Di Madrasah. Jakarta: PT Grasindo Persada.

Tim Pengembangan Materi BK PPPG Keguruan Jakarta. (2010). Konferensi Kasus, Home visit, dan Alih Tangan Kasus. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Winkel. (1991). Bimbingan dan konseling di Institusi Pendidikan. Jakarta:Grasindo.

Yusuf Gunawan. (1992). Pengantar Bimbingan dan Konseling. Jakarta : PT. Gramedia

DOI : https://doi.org//207